Jumat, 15 April 2016

CAHAYA SEMPIT SETELAH FAJAR




Ahmad Takbir Abadi Kepada Bung Muhammad Nur Adnan


(Muhammad Nur Adnan/TakbirFoto)
 Antara butiran-butiran Cahaya yang memancarkan kekuatan, aku  berharap bahwa matahari pagi ini harus mengerti, walau hanya kopi dan beberepa biskuit renya. Setelah fajar di panggil oleh pagi dan membunuh galau untuk mengingat malam, diriku terpaku pada matahari yang senantiasi bersinar diwajah gelap, merajai hari-hari dan memusnakan malam yang pekat akan rindu.

Hari ini kabar berita setelah suara-suara itu dibunyikan dan disaksikan dengan tepukan diakhir kalimat baik itu berupa saran,tanggapan,maupun kritik. Bahkan hari itu matahari seakan bersinar pilu , entah angin apa yang memeluknya. Beberapa suara kaki kuda yang menyerupai mesin-mesin yang canggihpun bersuara sangar entah teknologi apa yang dipakainya.

Kabar ini datang dari Adnan, seorang teman yang mengaku tak layak untuk duduk diatas kursi kewenangan yang di tempuhnya, adnan hanya seorang organisator dibalik layar, sukses tidaknya sekolah ini dalam berdialektika. Di pundaknya terpasang orang nomor 2 di orgaanisasi siswa yang berbahasa tinggi, namun baginya dia hanya sahabat Andhika dan Wiratama waktu di Aksel 2 satu sekolah unggul di daerahnya. Adnan hanya subversif dalam melihat kesenjangan para pemangku kewenangan yang membuat saya dan dirinya bergeleng-geleng kepala. Pagar dengan teknologi yang menggunakan tenaga manusia yang menjadi sistem keamanan di smansa  menjadi saksi mereka-mereka yang runtuh dan buntuh dengan penegakan tata tertib. Adnan hanya merasa meraka sebatas manusia yang tak luput dari lupa dan tipu muslihat. Namun dirinya tak jarang untuk datang cepat, mungkin  beberapa kecematan menjadi saksi perjalanan adnan ini. Tak ada logis yang harus di raih untuk datang cepat tapi yang adnan ketehaui akan ada cahaya sempit setelah fajar, artinya selalu banyak tantangan yang dialami walau itu masih pagi hari.

Di hati kecilnya  itu, perubahan masih tak takut untuk dikabarkannya, kekuatan dan senyumannya masih menyimpan beberapa harapan untuk berubah, pada hakikat dirinya punya kemauan untuk membawa perubahan, entah perubahan sebaik , atau sehancur apa.
Walau rapat suara itu,  memukulmu dengan tepukann palsu  itu artinya kau punya keberanian untuk merubahnya, namun ketika nepotisme masih berbaur di antara cahaya yang sangat sempit , percayalah urat leher itu tak akan berhenti bersuara, ingat kebenaran dan kebohongan jelas berbeda, walau dirimu  tikam malu untuk saat ini dan beberapa waktu , yakinlah setelah fajar berhenti bersinar kebenaran akan muncul sebagai pahlwan. Perjuangan tetap ada jika kau tetap bersama kebenaran dan membunuh kebohongan, bila ada yang macam-macam dengan realita , maka kau berhak memberikan cambuk dengan kata-kata pilu walau mereka harus membayar tenaga dan luka

  Mereka yang memperjuangkan kebenaran adalah mereka yang berbicara dan bertindak dengan sesungguhnya, bila mereka pemangku kewenangan berani bermain pimpong diatas monopoli selebar kertas, bersiaplah untuk membacakan puisi wiji tukul dan menarik mulutnya pelan-pelan dengan sabit dan pisau sawah.

Jika dirimu ingin bertarung di menjadi pengemis jabatan di sementer depan, percayalah jika kau tak menang kau akan tetap di anggap menjadi tokoh, dan cobolah untuk selalu percaya kepada cahaya, bahwa terang selalu membunuh gelap dan kebenaran akan selalu membunuh kebohongan


2 komentar:

  1. SUBHANALLAH, apa yang kulihat hanya berupa bayang bayang yang disinari sejenak cahaya terang. mungkin hanya dengan teriakan kebenaran hingga kubisa berdiri di panggung hiburan ini.

    BalasHapus
  2. Tetaplah menjadi maanusia yaang selalau mengakui kesalahan dan senatiasi belajar dari kesalahan

    BalasHapus