Putih yang ada di bajuku ini akan pudar dan membentuk warna baru, dan meninggalkan kenangan satu persatu dalam sepi bahkan melisankan bisu pada cerita yang baru. Sudah banyak perintih kata-kata indah menunggu mu meneteskan air pertama ke tanah tandus ini, penyair di ujung timur dan barat rindu dengan rintik dan suara gerimismu yang mengundang malu dan mengajak untuk mengingat masa lalu. Puisi hampa tentang kekeringan yang mewarnai hidup dan cerita hatinya, segelas air pun nekad dia ciptakaan sebuah puisi, karena hanya rindu dengan deras,dan cerita setiap rintik yang jatuh ketanah.
Hujan mengingatkan sebuah tragedi dalam hati, melepas kepenatan dan bernostalgia kembali....
dingin dan selimut yang menghangatkan raga, tentunya teko yang menganggur di dapur biasanya di gunakan untuk memasak air yang bersuhu tinggi untuk segelas kopi kekasih hujan, dan sebutir kata indah dalam bait puisi
Hujan,, akhirnya Kau Datang
Bagaimana Kabarmu?
Apakah tuhan menitipkan pesan kepada kami,??
Hujan 1% cairan, 99 % kenangan. Itulah tatkala hujan, gugusan aksara tak pernah lekang pada media waktu.
BalasHapus